![]() |
| Ilustrasi: Muhammad Agha Afkar / AI-Generated (Artlist.io) |
Oleh: Muhammad Agha Afkar, S.Kom., S.M.
L-MSTI Institute, Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi mengenai kualitas jurnal ilmiah di Indonesia semakin mengemuka. Pemerintah melalui berbagai kebijakan mendorong dosen dan peneliti untuk mempublikasikan hasil riset pada jurnal bereputasi tinggi, mulai dari SINTA 1, SINTA 2, hingga jurnal internasional yang terindeks Scopus dan Web of Science. Namun di balik ambisi tersebut, terdapat kenyataan yang jarang dibahas secara terbuka: mayoritas jurnal terakreditasi nasional justru berada pada kategori SINTA 4 dan SINTA 5.
Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 menunjukkan bahwa sekitar 68,45 persen jurnal terakreditasi nasional berada pada level SINTA 4 dan SINTA 5. Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar ekosistem publikasi ilmiah Indonesia sebenarnya ditopang oleh jurnal-jurnal yang sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, tanpa keberadaan mereka, ruang publikasi bagi mayoritas akademisi Indonesia akan semakin sempit.
Paradoks dalam Ekosistem Jurnal Nasional
Indonesia menghadapi sebuah paradoks yang cukup serius. Di satu sisi, dosen diwajibkan untuk meningkatkan kualitas publikasi melalui jurnal bereputasi tinggi. Di sisi lain, kapasitas penelitian dan dukungan infrastruktur antar perguruan tinggi sangat berbeda. Universitas besar dengan fasilitas riset lengkap tentu memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus jurnal elit dibandingkan perguruan tinggi kecil yang tersebar di berbagai daerah.
Masalahnya, standar kewajiban publikasi sering diterapkan secara seragam. Akibatnya, dosen di kampus dengan sumber daya terbatas menghadapi tekanan yang sama dengan dosen di universitas riset besar. Ketika tuntutan meningkat sementara akses terhadap jurnal bereputasi tinggi tetap terbatas, banyak akademisi akhirnya menghadapi situasi yang tidak ideal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan publikasi ilmiah bukan semata-mata masalah kualitas individu peneliti, tetapi juga berkaitan dengan desain sistem yang belum sepenuhnya mempertimbangkan keberagaman kondisi perguruan tinggi di Indonesia.
Jurnal Predator Tumbuh Karena Sistem yang Tidak Seimbang
Salah satu dampak yang paling terlihat dari tekanan publikasi adalah meningkatnya minat terhadap jurnal predator. Fenomena ini tidak bisa hanya dijelaskan sebagai persoalan etika penulis. Dalam banyak kasus, jurnal predator muncul karena menawarkan sesuatu yang sulit diberikan oleh sistem publikasi formal, yaitu proses cepat, kepastian penerimaan, dan biaya yang relatif terjangkau.
Ketika publikasi menjadi syarat administratif yang sangat menentukan karier akademik, sebagian peneliti mencari jalan yang dianggap paling praktis. Situasi ini semakin diperparah apabila jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang dikelola secara profesional justru dianggap kurang bernilai dibandingkan target publikasi yang lebih tinggi.
Padahal, keberadaan jurnal nasional yang kredibel dapat menjadi alternatif yang sehat bagi peneliti untuk mempublikasikan karya ilmiah secara bertanggung jawab. Jika ruang tersebut terus diremehkan, maka pasar bagi jurnal predator akan tetap terbuka lebar.
Memahami Apa yang Sebenarnya Diukur oleh SINTA
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa peringkat SINTA secara langsung mencerminkan kualitas setiap artikel yang diterbitkan dalam sebuah jurnal. Kenyataannya, sistem SINTA lebih banyak menilai aspek tata kelola jurnal, seperti konsistensi penerbitan, pengelolaan editorial, metadata, indeksasi, dan kepatuhan terhadap standar publikasi ilmiah.
Artinya, tidak semua artikel dalam jurnal SINTA 2 otomatis lebih baik dibandingkan artikel yang terbit di jurnal SINTA 4. Sebaliknya, tidak sedikit jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang menerapkan proses peer review ketat serta menjaga kualitas naskah dengan serius.
Oleh karena itu, peringkat jurnal seharusnya dipahami sebagai indikator administratif dan manajerial, bukan satu-satunya ukuran kualitas intelektual sebuah artikel ilmiah.
SINTA 4 dan SINTA 5 sebagai Infrastruktur Ilmu Pengetahuan
Banyak pihak melihat jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 hanya sebagai batu loncatan menuju peringkat yang lebih tinggi. Padahal, peran mereka jauh lebih penting daripada sekadar tahap transisi.
Jurnal-jurnal tersebut menjadi ruang belajar bagi mahasiswa pascasarjana yang baru pertama kali menulis artikel ilmiah. Di sana mereka belajar menyusun argumen, merespons komentar reviewer, melakukan revisi, dan memahami etika publikasi akademik.
Selain itu, jurnal nasional menengah juga menjadi wadah bagi dosen dan peneliti daerah untuk mempublikasikan hasil penelitian yang relevan dengan kebutuhan lokal. Banyak topik penting yang berdampak langsung bagi masyarakat setempat tetapi belum tentu menarik perhatian jurnal internasional.
Peran lain yang tidak kalah penting adalah menjaga eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Melalui jurnal nasional, hasil penelitian dapat diakses lebih luas oleh masyarakat akademik dalam negeri tanpa hambatan bahasa.
Data Membuktikan Bahwa Dampak Ilmiah Tidak Selalu Sejalan dengan Peringkat
Anggapan bahwa jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 memiliki dampak ilmiah rendah ternyata tidak selalu benar. Berbagai data sitasi dari portal SINTA menunjukkan adanya sejumlah jurnal pada kategori tersebut yang memiliki performa sangat baik.
Di bidang teknologi informasi, beberapa jurnal berhasil mencatat ribuan sitasi dan nilai H-index yang kompetitif. Hal serupa juga terlihat pada bidang pendidikan, ekonomi, hukum, hingga kesehatan. Bahkan terdapat jurnal SINTA 4 yang memiliki jumlah sitasi puluhan ribu dan H-index yang melampaui banyak jurnal pada peringkat yang lebih tinggi.
Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas dan pengaruh sebuah jurnal tidak bisa dinilai hanya dari angka peringkatnya. Dampak ilmiah sesungguhnya ditentukan oleh seberapa sering penelitian yang diterbitkan digunakan, dikutip, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Perlunya Kebijakan yang Lebih Adil
Jika Indonesia ingin membangun ekosistem publikasi ilmiah yang sehat, maka diperlukan pendekatan yang lebih realistis dan berkeadilan. Pengembangan jurnal nasional tidak boleh hanya berfokus pada kelompok jurnal yang sudah mapan, tetapi juga harus memberikan perhatian kepada jurnal yang sedang bertumbuh.
Program pendampingan editorial, peningkatan kapasitas pengelola jurnal, serta penyederhanaan proses re-akreditasi dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi publikasi ilmiah nasional. Investasi pada jurnal yang sedang berkembang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh ekosistem akademik Indonesia.
Di tingkat perguruan tinggi, kebijakan internal juga perlu lebih proporsional. Publikasi pada jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang memiliki proses review berkualitas seharusnya tetap memperoleh penghargaan yang layak, terutama bagi dosen yang bekerja di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya.
Penutup : Fondasi Tidak Bisa Terus Diabaikan
Mayoritas jurnal terakreditasi di Indonesia berada pada kategori SINTA 4 dan SINTA 5. Fakta ini menunjukkan bahwa kedua kelompok jurnal tersebut bukan pelengkap dalam sistem publikasi ilmiah nasional, melainkan fondasi utama yang menopang aktivitas penelitian di berbagai daerah.
Ketika stigma negatif terus dilekatkan kepada jurnal-jurnal tersebut, yang dirugikan bukan hanya pengelola jurnal, tetapi juga ribuan dosen, peneliti, dan mahasiswa yang bergantung pada keberadaannya. Ekosistem ilmiah yang kuat tidak dibangun hanya dari puncak piramida, melainkan dari fondasi yang kokoh dan dihargai secara adil.
Sudah saatnya diskusi mengenai kualitas jurnal di Indonesia dilakukan dengan perspektif yang lebih objektif. Sebab pada akhirnya, nilai sebuah jurnal tidak hanya ditentukan oleh angka peringkatnya, tetapi oleh kontribusi nyata yang diberikannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.
Muhammad Agha Afkar, S.Kom., S.M. adalah peneliti dan praktisi di L-MSTI Institute, Indonesia, dengan fokus pada tata kelola publikasi ilmiah dan ekosistem jurnal nasional.
Sumber
- SINTA Kemdiktisaintek — sinta.kemdiktisaintek.go.id, diakses 4 Juni 2026 (hanya jurnal dengan akreditasi yang masih berlaku setelah tahun 2026)
- GARUDA Kemdiktisaintek, Mei 2026
- ARJUNA Kemdiktisaintek, Statistik Akreditasi Jurnal 2022–2026
- PDDikti Kemdiktisaintek, 2024–2025
- Pedoman Beban Kerja Dosen (BKD) Kemdiktisaintek, 2024
- Tandfonline — "The impact of the publish-or-perish culture on research integrity", Higher Education Research and Development, 2025
- Journals.co.za — "The Publish-or-Perish Culture as a Threat to Academic Integrity", Journal of Education and Social Sciences, 2026
- Google Scholar Metrics, Juni 2026
